Honor Menulis Bagi Pemula

July 10, 2017

Opini  Honor Menulis Bagi Pemula
Oleh Tati Tia Surati

Berita Indonesia- Menulis itu adalah kegiatan menciptakan atau menuangkan suatu ide atau gagasan, maupun informasi yang didapat ke dalam berbagai media dengan menggunakan aksara atau huruf.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menulis juga dapat diartikan melahirkan pikiran atau perasaan dengan pena atau media lainnya. Hasil dari menulis bisa berbentuk karangan, artikel, cerita, maupun karya jurnalistik.

Diambil dari berbagai sumber tujuan menulis adalah memberitahukan suatu informasi kepada pembaca, meyakinkan, menghibur dan sebagai bentuk uangkapan perasaan. Menulis sendiri dapat memberikan banyak keuntungan bagi penulisnya. Selain bisa mengungkapkan ide dan gagasan, juga bisa menjadi terapi jiwa yang bisa menyehatkan jasmani dan rohani. Dengan menulis pula kita bisa menambah wawasan, saling berbagi, Personal Branding, bahkan bisa juga menghasilkan pundi-pundi uang.

Hampir semua media massa memberikan honor bagi penulis yang karya karyanya telah dimuat dan para penerbit juga memberikan royalti bagi penulis yang karyanya mereka beli atau mereka terbitkan dalam bentuk buku. Media dan Penerbit melakukan itu karena mereka ingin menghargai kerja keras penulis dalam membuat karyanya.

Nah, terkait menulis bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan atau untuk meraih pundi-pundi uang itu menurut saya bisa dikatakan adalah berkah atau bonus bagi penulis dan banyak sekali Penulis senior yang melakukan itu dan itu karena memang kualitas karya-karya mereka patut diacungi jempol. Namun berbeda bagi saya pribadi, karena saya hanyalah seorang penulis pemula, honor bukanlah menjadi patokan atau tujuan utama saya dalam menulis.

Niat dan tujuan saya menulis adalah Dakwah Bil Kalam. Mengikat ilmu dengan sebuah tulisan itu bisa membantu mengembalikan ingatan-ingatan seseorang ketika membacanya karena tulisan bisa abadi dan menyebar pandangan-pandangan yang bermanfaat bagi orang lain, dan dengan tulisan  cakupan sasarnya sangat luas ketimbang ketika menggunakan lisan.

Dalam menulis saya tidak pernah mengedepankan honor. Saya sangat takut jika dengan mendapatkan honor saya akan takabur, merasa tulisan saya sudah sempurna sehingga malas untuk belajar dan tidak mau membaca karya orang lain. Bagi saya  yang pemula ini ketika mendapat honor saya memang senang bukan kepalang tapi setelah saya mendapatkan honor itu langsung saja saya alihkan untuk kegitan sosial lainnya.

Saya melakukan itu bukan karena saya sombong atau sok-sokan tidak butuh honor tapi saya lakukan itu sebagai bentuk rasa syukur saya atas pemberian dari-Nya sebab saya mendapatkan ilmu menulis itu dengan gratis dan dibimbing oleh guru-guru yang tanpa pamrih. Saya masih perlu banyak belajar karena saya merasa karya tulis yang saya hasilkan masih banyak kekurangan, letak celanya pun masih ada dimana-mana. Jangan sampai karena butuh honor malah menjadi wartawan atau penulis amplop. Ngeri.

Saya akan sedih dan kecewa, jika karya tulis saya yang dimuat itu ditampilakan sesuai bentuk aslinya padahal ada banyak kesalahan. Misalnya ada salah ketik huruf meskipun hanya satu, tanda baca tidak diperhatikan maupun ada kata-kata yang double tapi tidak dihilangkan.

Saya belajar memperbaiki tulisan itu berdasarkan hasil suntingan dari Editor karena saya ingin karya saya semakin hari semakin lebih baik lagi. Keterampilan dasar dalam menulis adalah mengerti tata bahasa, susunan penyajian, tampilan dan saya yakin dengan hasil suntingan dari editor maka kaya dengan kosak kata maupun bahasa dan lebih penting akan makin terlatih untuk menyadari dan memperbaiki kesalahan. (Tati Tia Surati)

Advertisements

Cerpen: Kisah Cinta Terhalang Restu Orang Tua

March 14, 2017

Pah, Dian pamit ingin berangkat ke Luar Negeri dan berharap ini adalah terakhir kalinya, semoga cukup satu kotrak saja yaitu dua tahun. Papa jaga kesehatan dan jaga keluarga. Insya Alloh, saya janji saya yang akan menjaga kalian, setelah selesai menuntut ilmu nanti dan saya juga minta doa supaya bisa berumah tangga dengan lelaki sholeh, lelaki yang bisa membantu dan menjaga kehormatan keluarga dunia dan akherat. Semoga juga baiknya, sopannya dan taat-NYA lebih dari sebelumnya. Saya selalu nurutin apa kata orang tua, walupun dia sebenarnya lelaki yang baik dan penyayang.

Dian menahan tangisnya karena mengingat sosok laki-laki yang pernah dicintainya namun dulu terhalang restu orang tua karena berbagai alasan yang ada hingga kini dia sudah menhadi milik orang lain. Dian segera meraih bantal dan menghamburkan diri ke arah ranjang disebelah meja makan tempat ayahnya duduk dan meracik rokok.

Setelah meracing kemudian menggiling rokok ditangan, Ayah Dian menerawang ke atas memandangi langit-langit rumah yang  sedikit ada sarang laba-laba, terlihat kotor karena tercampur asap dapur yang menghitam menempel di kayu-kayu dan belum di bersihkan dalam bulan ini. Sang Papa mulai menjawab pertanyaan putri tersayangnya itu dengan nada yang lemah lembut lagi bijaksana.

” Nak, Percayalah Papa ingin sekali melihatmu sukses dan berumah tangga. Kàmu tidak usah khawatirkan kami di sini, jika Alloh berkehendak apa boleh buat? Kejarlah keinginanmu dan Papah yakin dia itu mungkin sebenarnya juga tidak mencintai istrinya, jika dia cinta mengapa harus dia tinggalkan? Kamu harus banyak-banyak bersabar, bersyukur dan jujur dalam menjalani hidup ini, terus semangat untuk meraih impianmu dalam pendidikan,” kata Ayah Dian sambil mengeluarkan asap rokok dari mulutnya dan meniupkannya ke udara hingga asap putih itu terbang membentuk lingkaran tipis, lalu hilang terkena angin.

Keberangkatan Dian ke Bandara Jogjakarta tidak diantar oleh sang ayah seperti biasanya. Dian diantar oleh sang adik menunggu travel jemputan dan kebetulan kedua orang tua Dian juga berangkat ke kota karena harus menghadiri pernikahan salah satu kerabatnya. Travel melaju jauh dari jadwal karena macet. Saat melaju itu Dian mengintip ke luar jendela, dan sepintas melihat Ibunya sudah duduk di Bis yang berhenti di jalan raya yang tertutup rindangnya dedaunan yang tumbuh di tepi jalan. Ternyata Bis itu juga masih menunggu sosok pria bersempong kiri dan berjaket hitam rapi yang tak lain adalah ayah Dian, untuk masuk setelah menggenggam handphone dan melambaikan tangan ke arah sang menantu ragil yang mengendarai sepeda motor.

Setelah mobil Travel yang membawa Dian menyalip Bis jurusan Purwokerto itu, Dian menatap ke arah luar jendel dengan tatapan mata kosong, sepertinya ada yang dipikirkannya dan mungkin Dian enggan meninggalkan kampungnya. Di setiap perjalanan Dian tak berhenti untuk terus berdoa dan berdzikir, agar Alloh melancarkan perjalannya dan orang tuanya serta bisa pulang kembali ke tanah air dengan membawa kesuksesan yang digadang-gadangkan oleh banyak orang ketika berangkat kerja ke luar negeri.

Setelah seharian penuh berada di dalam travel akhirnya Dian sampai di Bandara Adi Sucipto dan Dian pun bergegas menarik koper miliknya dan berjalan menuju Mushala karena waktu sudah mulai mendekati adzan magrib. Setelah salat magrib berjamaah, Dian meraih ponselnya untuk berkirim kabar kepada orang tuanya.

“Mah, pah…,tadi saya lihat kalian di Bis, sudah sampai Purwokerto kah, nginap di mana dan salam buat Uwa atau PakDe Ris, (Kakak Sepupu Mama), jangan lupa salam buat si mempelai, semoga samawa dan maafin saya karena gak bisa hadir. Pah, Hari ini Saya ulang tahun genap 28 tahun, tapi malahan harus meninggalkan kalian ke Luar Negeri, Maafkan Dian yang belum bisa berbakti dan nyenengin orang tua,” kata Dian sambil meyeka air mata yang mengalir di pipi dan membasahi hijab biru, warna favoritnya.

Kedua orang tua Dian pun memberikan ucapan selamat hari lahir serta mendoakan putri pertamanya itu agar sehat, bahagia, sukses dan mendapat jodoh yang sholeh lagi berahlak baik seperti yang diimpikannya. Ayahnya kemudian berpesan agar Dian sabar, jangan khawatir keadaan di rumah dan mengatakan bahwa jodoh itu sudah diatur oleh-Nya. Bersambung.


Citanduy Lestari: Air Kuning Harus Di Saring

March 13, 2017

Saya lahir di Banyumas, namun sejak SD kelas 5 saya ikut orang tua pindah ke Cilacap, Jawa Tengah, Dusun Kalen Pring, Desa Patimuan.

Cara beradaptasi saya dan keluarga dengan lingkungan baru ini cukup menyenangkan. Dari makan kangkung merah, harus ngangsu untuk dapat air bersih dan jalanan  desa dulu itu sangat cukup parah jeblognya (rusak parah), kemudian kalau musim panas udaranya sangat panas sekali.

Untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, saya kenalan  dengan gadis manis nan imut namanya Sumi tapi dulu saya sering salah sebut dengan memanggilnya Atun, padahal Atun itu nama adiknya si Sumi.

Dari  Sumi saya belajar banyak hal, dari rajin bantu orang tua, masak dan bersih-bersih rumah. Kami berdua rajin belajar bersama bahkan sering tidur bareng apalagi kita berdua punya hobby yang sama yaitu memancing. Sumi ini lah yang mengajari saya tentang ilmu menyaring air.

Kenapa belajar menyaring air? Awal pindahan saya sangat ngumun, jian ngumun pisan, bisa bisane banyu koh kuning banget, rasane getir-getir letek pisan, kaya banyu segara ( airnya rasanya asin sekali kaya air laut). Kata Sumi kalau ngak rajin nyaring air maka mandi air itu rasanya lengket di badan, alias gerah.

Sanajan wes di saring banyune rasane ora ilang leteke, sing ilang mung warna kuninge tok, dadi nek ngo minum ya ora enak apa maning go masak. Terus tiap sore Papaku ngangsu, nek awan  bar bali sekolah nger ana wektu ya aku latihan ngangsu juga direwangi kakangku.

Biasanya keluargaku mengambil air bersih dari sumur milik Nini Semi dan Nini Tili. Yang rajin ngangsu ya Papaku, lebih cepet karena dipikul. Kalau aku dan mama yang ngangsu pasti sering berhenti karena kecapekan, berat sih kanan kiri bawa ember isi air bersih, malah kadang tumpah separuh.

Witing tresno jalaran soko kulino, bisa itu karena biasa. Wes biasa ngangsu ya wes ora kagetlah alias betah, apa maning nek mancing karo nyeser golet iwak karo urang ngo mancing, malah nek ora nemu urang ya nganggo anakan kecoro, sing diarani Kecere, jare Sumi (Mancing pakai anak kecoa yang kecil-kecil)

Ini cerita saya beradaptasi dengan lingkungan yang airnya kuning, dan penduduknya pinter menggunakan dua bahasa untuk berkomunikasi yaitu bahasa jawa dan sunda.

 

Sekilas Citanduy Lestari.

Citanduy Lestari adalah gerakan mencintai Sungai Citanduy. Sungai yang menjadi penanda batas Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat ini memiliki hulu dan hilir. Hulu Citanduy berada di beberapa titik, yaitu Gunung Galunggung, Gunung Sawal, Gunung Subang, dan Gunung Bongkok di Provinsi Jawa Barat. Sungai Citanduy berhilir di Laguna Segara Anakan.

Citanduy Lestari menjadi gerakan pelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy. Tahun 2017, banyak tanggul kritis di pinggir Sungai Citanduy yang berpotensi banjir, sedimentasi di Citanduy pun semakin menebal, biodata khas Citanduy semakin langka, dan Citanduy menjadi saluran pembuangan sampah. Kondisi tersebut sungguh memprihatinkan.

Citanduy Lestari dimulai dari 16 Januari 2016 (16/1/16) dari lini massa facebook. Saudara Agus Kusmawanto membuat grup yang bertujuan mengumpulkan data dan informasi DAS Citanduy, baik berupa foto, video, artikel populer, atau artikel ilmiah.  Tujuannya agar anggota grup mengetahui praktik baik pengelolaan sungai, isu air, satwa, dan sebagainya.

 

Tahun 2017, para pegiat Citanduy Lestari ingin melakukan kegiatan yang lebih riil. Antara lain penanaman bambu, susur Citanduy, pemetaan tanggul kritis, dan sebagainya.

Dalam rangka Hari Air Dunia (HAD) 2017, pegiat Citanduy memproduksi dan reproduksi konten terkait dengan menyebarluaskan di media sosial. Hajatan ini ditandai dengan penulisan tagar #banyugourip #caijanghirup #citanduylestari.

 

Gerakan Citanduy Lestari bersifat sukarela, terbuka bagi siapa pun yang tertarik pada masalah dan solusi sungai, khususnya di Sungai Citanduy. Mari bergabung!

 

Posko Citanduy Lestari Desa Rawaapu berada di Dusun Cikuning RT 02 RW 05 Desa Rawaapu, Kecamatan Patimuan, Kabupaten Cilacap. Kami bisa dihubungi melalui e-mail : citanduy.lestari@gmail.com, twitter : @CitanduyLestari, IG : @citanduylestari

#banyugourip #caijanghirup #citanduylestari


Logika Tidak Boleh Kalah Dengan Perasaan

April 29, 2015

Entahlah kayaknya mungkin bukan hanya saya saja tetapi banyak juga rekan rekan BMI lainnya yang dapat inbok baik dari FB yang mengaku cowok bule, cowok India, cowok Indonesia, berbahasa Inggris, profilenya caem caem, suka memuji kita dengan pujian yang aduhaiiii, menawarkan cinta yang sempurna serta ngakunya tentara, pelayaran, manager, direktur, dan lain lain. Read the rest of this entry »


Press Rilis: Kegiatan Hari Kartini Unimig Hong Kong

April 21, 2013

Assalamualaikum wr.wb,

Kami tidak pernah bosan untuk berulang kali membaca karya tulis teman-teman BMI Hong Kong yang diikutkan dalam perlombaan untuk memperingati hari Kartini oleh Unimig Hong Kong (Union migrant Indonesia di Hong Kong). Read the rest of this entry »


Lok Hap Joi = Judi = Haram

March 27, 2013

DDHK News_Mendengar curhatan dari seorang teman yang saat ini tinggal di Malaysia, saya sangat kaget dan tercengang karena ia mengatakan bahwa salah seorang sahabatnya itu menang Lok Hap Joi sebesar HKD 16.000 padahal sahabatnya itu selama ini rajin shalat dan ngaji. Read the rest of this entry »


Pasha Ungu Main Golf di Bukit Tanah Merah Samarinda

March 25, 2013
Pasha Ungu

Pasha Ungu

Sigit Purnomo Syamsudidin Said alias Pasha Ungu bermain Golf bersama Erwin ( Pejabat Bank Bukopin Samarinda) di Pt. Bukit Tanah Merah Golf Samarinda, Kalimantan Timur. Minggu, 24 Maret 2013. Read the rest of this entry »