Ketika Naik Pesawat Dianggap Mewah

Dulu, saat pertama kali saya naik pesawat terbang yaitu tahun 2002 adalah Garuda Indonesia. Ya, pengalaman itu adalah pengalaman yang terunik dalam hidup saya karena melakukan travelling ke Singapura.

Banyak sekali kenangan manis yang tidak bisa saya lupakan dan mungkin juga bagi teman-teman BMI lainnya. Banyak kejadian lucu namun unik yang mungkin bisa saja dianggap kampungan atau oneng bagi orang-orang yang berduit atau orang yang borjuis.

Saat pesawat sudah di angkasa, saya tak berani menatap ke luar jendela karena takut pesawatnya akan jatuh. Saat itu yang saya lakukan hanya duduk manis, dan banyak berdoa. Perasan saya deg-degan tak karuan saat pesawat itu miring sedikit saja dan saya langsung memejamkan mata sambil berkata dalam hati, ” Semoga saja pesawat ini tidak jatuh.”

Mungkin hal itu wajar saja bagi orang-orang yang baru pertama kali naik pesawat terbang tapi ada hal yang lebih unik lagi bagi saya yaitu tidak berani beranjak dari tempat duduk walau sedetik. Ya, mungkin saja jika tidak kebelet pipis, saya masih tetap duduk dengan posisi yang sama.

Ketika hendak ke toilet yang ada di belakang tempat duduk para penumpang, saya langsung masuk  dan hendak kunci pintu, lah kok ngak ada kunci pengkaitnya. Saya ganti pakaian sambil memegangin pintu karena di luar sana ada yang menarik-narik pintu toiletnya. Setelah saya keluar dari toilet, saya melihat ada orang Bule bersama anaknya sedang ngantri dan menatapku dengan tatapan aneh.

Wah, si Bule kecil cantik juga, sambil tangganku mencubit lembut pipinya. Lalu, sang mami berkata padaku, why you not lock the door? Sambil clingukan saya menjawabnya, its my fist time go to the toilet without lock the door, heheee…im sorry!, ucapku yang kemudian di bales dengan senyuman manis si Bule itu.

Si Bule adalah penumpang yang duduk di sebelah kursiku. Si Bule kecil memang tak bisa duduk manis karena ia selalu ingin mainan air terus. Perjalananku pertama kali itu emang tak seasyik ketika naik pesawat sekarang ini karena saat itu aku juga tak mau makan dan tak mau minum apapun juga kecuali air putih. Makan sedikit saja nasi langsung mau mutah dan kayaknya aku juga masuk angin. Untung saja di tas kecilku ada minyak kayu putih untuk di olesin ke perut dan keningku supaya aku tidak jadi mutah.

Sesampainya di  Bandara Singapura, aku sangat senang sekali karena melihat suasana yang indah dan udara terasa sejuk. Begitu sampai di imigrasinya aku ngantri bersama teman-teman yang lain dan di luar imigrasi itu ternyata sudah ada pihak agen yang menjemputku. Aku di bawa oleh agen tersebut ke daerah Bras Basah, untuk di training selama satu minggu.

Setelah masa trainingku selesai, aku langsung di antar ke rumah majikanku yang ada di Bride Port Avenue. Setelah satu bulan bekerja disana , aku diizinkan untuk menulis surat ke keluargaku di Indonesia. Di dalam surat itu, aku menulis pengalamanku pertama kali naik pesawat. Selain itu aku juga menceritakan keadaanku dan kondisi tempatku kerja kepada kedua orang tuaku. Surat itu aku kirim ke PJTKI yang memproses keberangkatanku karena aku ingin agar Sponsorku yaitu Mas Agus (wajahnya mirip Eko Patrio) bisa mengantarkan surat tersebut ke rumah tanteku di  Wates, Tinggar Jaya – Jatilawang.

Saya berharap Sponsorku itu memberikan surat itu ketika dia pulang ke Patik Raja, Purwokerto. Entahlah surat itu sampai ke tangan ortuku ataukah tidak, wong nyatanya ortuku tidak membalas surat tersebut. Sewaktu di Singapura saya sering sekali kirim surat ke rumah ortu langsung yang ada di Cilacap dan alhamdulilah mereka selalu membalas surat-suratku itu.

Setelah 1,5 tahun aku bekerja di Singapura aku harus pulang dengan mendadak karena ada masalah. Aku sudah tidak betah dengan tingkah sang nenek dari majikanku itu yang judes dan galak. Lagian si Kakek juga bilang kalau mereka mau pindah dan menentap di Hong Kong atau mungkin menentap di Shang hai karena mengikuti tugas dinas anaknya yaitu Sir Au bersama anak menantunya.

Setelah aku memutuskan untuk pulang ke Indonesia karena aku ingin melanjutkan sekolahku lagi, majikanku sangat mendukung  keputusanku itu, sehingga segala macam keperluanku dia yang mengurusnya. Dia membelikanku oleh-oleh untuk keluargaku, mengantarkanku ke bank untuk mendepositokan uang hasil kerjaku yang utuh dan ia juga yang mengantarkanku sampai ke bandara Internasional Singapuranya.

Majikanku berpesan kepadaku agar aku sekolah lagi dengan baik, supaya bisa seperti anaknya yaitu Shena dan Aaron. Aku di peluk olehnya erat sekali ketika aku hendak masuk ke Boarding pass. Setelah saya pamitan, dan masuk ke dalam ternyata majikanku masih tetap berdiri di dekat ruangan berkaca itu sambil  terus melambaikan tangan ke arahku.

Aku harus naik pesawat lagi, gumamku dalam hati sambil melangkah masuk ke pintu pesawat Philipine Airlane. Aku diantar oleh sang Pramugari menuju tempat dudukku dan sesampainya di tempat duduk aku berkenalan dengan salah seorang wanita cantik asal Indramayu yang kebetulan juga duduknya di sampingku.

Kami berdua saling berbagi cerita dan jalan bersama ketika memasuki imigrasi Indonesia hingga kami berpisah saat berada di terminal 3 Sukarno Hatta karena dia di ambil paksa oleh  karyawan PJTKInya. Aku yang masih menunggu antrian terpaksa naik travel yang ada disana. Travel itu adalah travel yang sangat aku benci dalam hidupku karena hampir saja nyawaku melayang karena ulah mereka. Mereka bukan hanya memerasku tapi mereka juga memeras setiap penumpang yang akan dianatar oleh mereka.

Mereka merasa berjasa mengantarkanku dan penumpang lainnya. Mereka menganggap bahwa mereka telah menyelamatkan nyawa para penumpang sehingga mereka berhak meminta sejumlah uang yang telah mereka tentukan. Sejak awal sebenarnya aku sudah curiga dengan gerak-gerik para Supir dan kernek Travel tersebut tapi apa daya aku hanya seorang diri sedangkan penumpang lainnya sepertinya terhipnotis oleh kerasnya lantunan musik dangdut lagu cucak rowo.

Begitu sampai di rumah, ayahku memintaku untuk bercerita pengalamanku naik pesawat dan ternyata ayahku pun bilang kalau dia juga ingin naik pesawat terbang sepertiku. Aku pikir pengalamanku itu adalah pengalaman terakhir dan ternyata  itu bukan karena aku masih ingin sekali kerja ke Luar Negeri agar bisa menyekolahkan adik-adikku. Negera yang menjadi tempat singgahku setelah Singapura adalah Hong Kong.

Dulu , naik pesawat itu sangat unik bagiku karena mungkin beruntunglah aku sudah pernah punya pengalaman istimewa ini, tidak seperti teman-temanku yang belum pernah naik pesawat tapi mereka sangat sombong sekali hanya karena mereka sekolah SMA. Mudah-mudahan aku punya rezeqi yang lebih dan bisa membanggakan orang tuaku, semoga saja mereka bisa merasakan bagaimana uniknya naik pesawat terbang sama seperti pengalaman pertamaku itu.

Mendengar cerita dari adik iparku, katanya ponakanku si Jelita Aulia itu suka menantap ke langit bila ada pesawat dan meneriakkan nama Budenya, yaitu namaku. Si Jelita bilang Budhe kok ngak pulang-pulang dan masa ada di pesawat terus. Turun donk budhe , Ita kangen nich, gethu dech ceritanya kalau si ponakanku yang suka melucu itu bikin tertawa orang-orang di sekitarnya termasuk kakek dan neneknya.

Jika dulu naik pesawat adalah hal yang dianggap sebagai barang mewah, namun  di zaman sekarang naik pesawat bukan lagi menjadi hal yang mewah bagi sebagian orang yang ekonominya berkecukupan. Malah bagi para TKI itu sudah menjadi hal biasa karena sudah sering bolak -balik naik pesawat  karena harus bekerja ke Luar Negeri demi masa depannya dan keluarga.

Advertisements

2 Responses to Ketika Naik Pesawat Dianggap Mewah

  1. Yuli Duryat says:

    Wah masih ingat ya, saya pertama kali naik tahun 2001, udah lupa gimana rasanya naik pesawat waktu itu hehehe 🙂

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: